Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Theme From:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 05 Maret 2012

MEDIA, TERORISME DAN ISLAMOPHOBIA


Oleh: Imam Mustofa
(Ketua Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia)

Stigma terorisme terhadap Islam dan munculnya islamophobia di dunia saat ini tidak terlepas dari peran-peran yang dimainkan media. Sebagian media Barat telah sukses menggambarkan Islam secara tidak proporsional, sehingga Islam dipahami sebagai agama yang jahat, anti kemanusiaan, agama kekerasan, agama teroris, agama poligami dan image-image negatif lainnya. Hal ini mengakibatkan munculnya ketakutan pihak-pihak non muslim terhadap Islam (islamophobia). Bukan hanya itu, selain mendeskripsikan Islam secara negatif, media-media Barat juga melakukan propaganda untuk memusuhi Islam.
Dalam kaitan dengan sejarah hubungan Islam-Barat, banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat (Adian Husaini, 2007). Memori ini tampak terbuka setelah isu terorisme yang secara terang-terangan memojokkan posisi umat Islam. Isu terorisme dijadikan momentum untuk melakukan black campaign terhadap Islam. Dengan bantuan media massa dan media elektronik, kalangan Barat melakukan propaganda untuk mendeskriditkan Islam.
Isu terorisme dan perang global melawan terorisme menimbulkan masalah dalam hubungan Barat, terutama AS dengan Negara-negara Islam, khusunya yang selama ini sangat akrab seperti Kerajaan Arab Saudi. Bukan hanya itu, permasalahan ini bahkan meluas menimpa umat Islam secara keseluruhan. Barat selalu mencurigai gerak-gerik Negara, kelompok atau orang Islam yang berpotensi melakukan tindak kekerasan. Seperti Iran, Syiria, Hamas, Hizbullah, Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok Islam lainnya.
Media Barat menghembuskan propaganda untuk memojokkan dan membatasi ruang gerak terhadap kelompok-kelompok dan bahkan Negara yang dianggap tidak pro-terhadap kepentingan Barat. Lebih dari itu, perang global melawan terorisme tidak jarang dijadikan justifikasi untuk meneror dan membunuh tokoh-tokoh organisasi Islam.
Menurut Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak, masalah menjadi serius ketika propaganda menjadi efektif di saat beberapa orang mengalami phobia terhadap Islam. Situasi yang tidak menguntungkan ini terjadi karena umat Islam tidak menggunakan media untuk meluruskan miskonsepsi terhadap Islam. Posisi penguasaan terhadap lalulintas media sangat diuntungkan, sehingga kelompok minoritas, negara miskin, kelompk dan Negara yang tidak pro terhadap kebijakan dan kepentingan Barat, terutama Amerika sangat dirugikan sebab tidak memiliki kekuatan balik. Media-media ini tidak lagi berkisar pada media cetak maupun elektronik tapi sudah bergerak sampai pada dunia maya, yang sering disebut dengan Ciber Terorism. Melihat hal ini, sebenarnya Islam adalah sebagai korban dari terorisme.
Black campaign dan pencitraan negatif tentang Islam oleh pihak Barat menandakan mereka tidak paham dan memahami Islam. Agama Islam sebagai ajaran suci dari Allah mempunyai dua dimensi yaitu body (badan) dan soul (ruh atau substansi). Body adalah ritual-ritual atau peribadatan yang biasa dilaksanakan oleh pemeluknya. Sementara soul adalah nilai-nilai moral etis (moral ethic values), nilai spiritual yang menjadi ruh agama yang bersemayam dalam ritual agama. Nilai-niali ini hanya dapat diketahui dan dirasakan oleh pemeluk Islam (insider).
Orang lain (outsider) hanya dapat mencapai body dan tidak akan pernah sampi pada nilai etik agama. Karena mereka hanya menilai hal-hal yang empirik yang dilakukan oleh pemeluk agama. Nilai moral etik suatu agama akan dapat tercapai oleh out sideri ketika ia ditransformasikan dalam bentuk perilaku kehidupan sebagai aplikasi dan cerminan dari nilai moral etik agama.
Hal lain yang dapat dicapai oleh outsider adalah pemikiran keagamaan atau wacana agama, dan ini sangat berbeda dengan agama. Pemikiran keagamaan merupakan murni produk manusia yang tidak jarang terkontaminasi dengan berbagai kepentingan, termasuk kepentingan politik (political interest). Bahkan outsider bisa saja masuk dan berpartisipasi dalam menciptakan pemikiran keagamaan ini berdasarkan kepentingan yang ia bawa dan dikehendaki. Inilah yang sering dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak senang terhadap Islam dan berusaha mamanipulasi serta membajak Islam untuk mengesankan bahwa Islam adalah agama penindas yang pro-kekerasan, menghalalkan darah pemeluk agama lain, agama teror dan anti HAM.
Para outsider biasanya mengutip teks-teks agama yang bernada tegas secara tidak proporsional. Mereka mengutip ayat secara parsial-atomistic (partial atomistic), ahistoris dan melepaskan dari konteksnya. Ketika ayat-ayat yang bernada tegas, seperti perintah membunuh kaum musyrik (QS al-Baqarah: 191) dilepaskan dari konteks sosiohistorisnya maka akan mengesankan Islam sebagai agama yang haus darah dan menganjurkan pembunuhan. Padahal untuk mendapatkan pemahaman secara komprehensif terhadap teks agama dan pemikiran keagamaan deperlukan pemahaman secara komprehensif pula terhadap aspek historis sosiokultural, sosiopolitik dan konteks tempat dan waktu.
Pemikiran di atas dikemas sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang tidak senang melihat perkembangan Islam dan dijadikan sebagai alat propaganda untuk mendeskriditkan Islam dan pemeluknya. Propaganda anti-islam dilakukan secara sistematis dan massif dengan menggunakan bantuan media. Akibatnya terjadi ketakutan yang berlebihan terhadap Islam dan para pemeluknya (islamophobia).
Perlu kerja keras dari insider dalam hal ini para intelektual muslim untuk menjelaskan Islam secara lugas dan logis bahwa Islam adalah agama yang antikekerasan, apalagi terorisme. Sesuai dengan namanya, Islam adalah agama perdamaian, agama cinta yang menghormati dan menghargai manusia tanpa memandang latar belakang agama, suku, ras, bangsa dan Negara. Penjelasan ini sangat membutuhkan peran media, baik cetak maupun elektronik cyber media yang obyektif, media yang tidak mempunyai kepentingan kecuali menegakkan kebenaran dan perdamaian tanpa diskriminasi. Bukankah media juga berkewajiban menciptakan perdamaian dunia?

Artikel ini telah diterbitkan Radar Lampung, Sabtu, 15 Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar